Pernahkah kita mengucapkan sesuatu yang sebenarnya dianggap biasa, tetapi ternyata membuat orang lain terluka? Atau pernahkah kita menyesali perkataan sendiri setelah melihat seseorang berubah sikap karena ucapan kita?
Dalam kehidupan sehari-hari, berbicara memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas manusia. Kita berbincang dengan keluarga, bercanda bersama teman, berdiskusi dengan rekan kerja, hingga menyampaikan pendapat di media sosial. Namun, tidak semua perkataan yang mudah keluar dari mulut kita dapat diterima dengan baik oleh orang lain.
Terkadang, kita terlalu cepat berbicara tanpa memikirkan perasaan lawan bicara. Kita merasa hanya bercanda, padahal orang lain merasa direndahkan. Kita menganggap sedang memberikan nasihat, tetapi cara penyampaiannya justru membuat orang lain tersinggung. Padahal, lisan merupakan amanah yang harus dijaga. Perkataan yang baik dapat menenangkan hati seseorang, sedangkan ucapan yang buruk dapat meninggalkan luka yang tidak mudah dilupakan.
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).” (QS. Al-Isra: 53).
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa memilih perkataan yang baik merupakan bagian dari ajaran Islam. Bukan hanya isi pembicaraan yang perlu diperhatikan, melainkan juga cara menyampaikannya.
Lalu, bagaimana cara menjaga lisan agar perkataan kita tidak menyakiti orang lain?
1. Berpikir Sebelum Berbicara
Kebiasaan berbicara secara spontan terkadang membuat kita lupa mempertimbangkan dampak dari perkataan sendiri. Ketika sedang kesal, kita bisa mengucapkan kalimat yang menyakitkan. Ketika bercanda, kita mungkin menyinggung kekurangan seseorang tanpa menyadarinya. Karena itu, biasakan untuk berpikir sejenak sebelum berbicara. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah perkataan tersebut benar, apakah memang perlu disampaikan, dan apakah cara penyampaiannya sudah tepat?
Kita tidak harus mengutarakan semua hal yang terlintas di pikiran. Ada kalanya diam sejenak jauh lebih baik daripada berbicara terburu-buru dan akhirnya menimbulkan masalah. Dengan membiasakan diri berpikir sebelum berbicara, kita dapat belajar mengendalikan emosi sekaligus lebih menghargai perasaan orang lain.
2. Jangan Menjadikan Candaan sebagai Alasan untuk Menyakiti
Bercanda merupakan hal yang wajar dalam pergaulan. Candaan dapat membuat suasana lebih akrab dan mencairkan ketegangan. Namun, kita perlu memahami bahwa tidak semua hal pantas dijadikan bahan lelucon. Mengejek fisik, merendahkan pekerjaan, membandingkan kondisi ekonomi, atau mengungkit kesalahan masa lalu seseorang dapat meninggalkan perasaan tidak nyaman. Apalagi jika candaan tersebut dilakukan di depan banyak orang.
Ketika orang yang menjadi sasaran merasa tersinggung, jangan langsung mengatakan bahwa dirinya terlalu sensitif. Bisa jadi, kita memang perlu mengevaluasi cara bercanda yang selama ini dianggap biasa. Candaan yang baik seharusnya menghadirkan kebahagiaan, bukan membuat seseorang merasa dipermalukan.
3. Hindari Membicarakan Keburukan Orang Lain
Membicarakan kehidupan orang lain terkadang terasa menyenangkan, terutama ketika dilakukan bersama teman atau orang terdekat. Awalnya mungkin hanya membahas suatu kejadian, tetapi pembicaraan dapat berkembang menjadi membicarakan kekurangan, kesalahan, atau aib seseorang.
Allah SWT memberikan peringatan tentang ghibah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12. Dalam ayat tersebut, Allah SWT mengumpamakan orang yang menggunjing saudaranya seperti memakan daging saudaranya yang sudah meninggal. Perumpamaan ini menunjukkan betapa buruknya perbuatan tersebut.
Oleh karena itu, ketika pembicaraan mulai mengarah pada keburukan seseorang, kita perlu berusaha menghindarinya. Kita dapat mengalihkan topik, mengingatkan dengan cara yang baik, atau memilih tidak ikut menambahkan cerita yang belum tentu benar.
4. Belajar Menyampaikan Kritik dengan Cara yang Baik
Memberikan kritik bukanlah sesuatu yang salah. Dalam kondisi tertentu, kritik justru dibutuhkan agar seseorang dapat memperbaiki kesalahan dan berkembang menjadi lebih baik.
Misalnya, ketika melihat teman melakukan kesalahan, kita dapat menjelaskan bagian yang perlu diperbaiki tanpa merendahkan dirinya. Hindari perkataan seperti, “Kamu memang selalu tidak becus,” karena kalimat tersebut menyerang pribadi, bukan membahas kesalahannya.
Sebaliknya, kita dapat mengatakan, “Bagian ini mungkin masih bisa diperbaiki. Bagaimana kalau kita coba cara yang berbeda?”
Kritik yang baik berfokus pada perbaikan, bukan mempermalukan. Jika memungkinkan, sampaikan secara pribadi agar orang tersebut tidak merasa direndahkan di hadapan orang lain.
Dengan demikian, kita dapat menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan adab dan rasa hormat kepada sesama.
5. Kendalikan Lisan Ketika Sedang Marah
Marah merupakan emosi yang dapat dirasakan oleh siapa saja. Namun, ketika emosi sedang memuncak, kemampuan kita untuk berpikir jernih terkadang berkurang. Kita bisa mengungkit masalah lama, mengucapkan kata-kata kasar, bahkan menyampaikan ancaman yang sebenarnya tidak ingin dilakukan. Ketika merasa emosi mulai meningkat, cobalah berhenti berbicara sejenak. Beri waktu kepada diri sendiri untuk menenangkan pikiran sebelum melanjutkan percakapan. Jika diperlukan, menjauhlah sementara dari situasi yang memicu kemarahan.
Dalam ajaran Islam, kita juga dianjurkan untuk menahan amarah dan memaafkan orang lain. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 134 tentang orang-orang bertakwa yang menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain.
Menjaga Lisan, Menjaga Hubungan dengan Sesama
Menjaga lisan memang membutuhkan latihan. Kita perlu belajar mengendalikan emosi, memahami perasaan orang lain, serta membiasakan diri memilih kata-kata yang tepat dalam berbagai situasi.
Namun, upaya tersebut layak dilakukan karena perkataan memiliki pengaruh besar terhadap hubungan antar manusia. Satu kalimat yang baik dapat memberikan semangat kepada seseorang yang sedang kehilangan harapan. Sebaliknya, satu kalimat yang buruk dapat membuat seseorang merasa tidak berharga. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Pesan ini diriwayatkan dalam hadis sahih yang dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa berbicara bukan sekadar menyampaikan apa yang ada dalam pikiran. Kita juga perlu mempertimbangkan apakah ucapan tersebut membawa manfaat atau justru menimbulkan keburukan.
Mari mulai memperbaiki diri dari hal sederhana. Berpikir sebelum berbicara, menghindari ghibah, tidak merendahkan orang lain, serta berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjaga lisan, melembutkan hati, dan menjadikan setiap perkataan sebagai jalan untuk menghadirkan kebaikan. Sebab, lisan yang terjaga bukan hanya membuat hubungan dengan sesama menjadi lebih baik, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar kita dalam memperbaiki akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selain memperbaiki hubungan dengan sesama, mari kita wujudkan kebaikan melalui kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang membutuhkan. Salah satunya dengan membantu menyediakan akses air bersih yang aman bagi masyarakat di wilayah pedalaman.
Yuk, bersama SOLOPEDULI, hadirkan manfaat dan bantu penuhi kebutuhan air bersih bagi mereka yang membutuhkan melalui tautan berikut:
Bersama Kami, Wujudkan Air Bersih & Aman Untuk Masyarakat Pedalaman