SOLOPEDULI mengawali Program Bebas Buta Al-Qur’an 2026 dengan menggelar pelatihan bagi takmir masjid dan guru ngaji di Kota Surakarta. Kegiatan bertajuk “27.000 Al-Qur’an untuk Masjid di Jawa Tengah” ini dilaksanakan di Masjid Laweyan, Surakarta, pada Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi langkah awal SOLOPEDULI dalam menjalankan Program Bebas Buta Al-Qur’an yang akan dilaksanakan secara bertahap di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Melalui program ini, SOLOPEDULI menargetkan penyaluran 27.000 Al-Qur’an wakaf ke masjid-masjid di Jawa Tengah, sekaligus meningkatkan kompetensi para pengajar Al-Qur’an di masjid dan lembaga pendidikan Al-Qur’an. Dalam pelaksanaannya, program ini juga berkolaborasi dengan Kementerian Agama Kota Surakarta sebagai bagian dari upaya memperluas manfaat dan penguatan pembelajaran Al-Qur’an di masyarakat.
Sebanyak 100 takmir masjid dan guru ngaji dari lima kecamatan di Kota Surakarta mengikuti pelatihan ini. Kelima kecamatan tersebut meliputi Banjarsari, Jebres, Laweyan, Pasar Kliwon, dan Serengan.
Selain mendapatkan pelatihan, para peserta juga menerima wakaf Al-Qur’an dan sejumlah perlengkapan pendukung pembelajaran Al-Qur’an untuk digunakan di masjid masing-masing. Pada kegiatan perdana ini, SOLOPEDULI menyalurkan 500 eksemplar Al-Qur’an, yang terdiri atas 300 eksemplar Al-Qur’an ukuran A5 dan 200 eksemplar Al-Qur’an lansia ukuran A4.
Wakaf Al-Qur’an tersebut merupakan amanah dari para donatur yang dipercayakan kepada SOLOPEDULI untuk disalurkan kepada masyarakat.
dok.humas: Ustaz Rudy Hartanto, Menyampaikan Materi Pelatihan Bebas Buta Al-Quran kepada Peserta
Pelatihan menghadirkan narasumber yaitu Ustaz Rudy Hartanto, S.Pd.I., M.Pd., yang menyampaikan materi “Cara Mudah dan Cepat Mengajarkan Al-Qur’an” menggunakan metode Dzakira dari Zahrawain Indonesia. Melalui pelatihan ini, peserta mendapatkan pembekalan mengenai metode pembelajaran Al-Qur’an yang diharapkan dapat diterapkan kembali kepada para santri dan jamaah di masjid masing-masing.
CEO LAZ SOLOPEDULI, Sidik Anshori, S.Sos.I., menyampaikan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada penyaluran Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sarana untuk menyebarluaskan ilmu dan metode pembelajaran Al-Qur’an kepada para pengajar.
“Program ini kami awali dari Kota Surakarta dengan harapan bukan hanya menyalurkan wakaf Al-Qur’an, tetapi juga membagikan ilmu kepada Bapak dan Ibu yang nantinya dapat ditularkan kembali kepada jamaah dan masyarakat di wilayah masing-masing,” ujar Sidik.
Sidik juga menyampaikan apresiasi kepada Masjid Laweyan yang telah menjadi lokasi pertama pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar SOLOPEDULI untuk memperluas manfaat program ke seluruh wilayah Jawa Tengah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Masjid Laweyan yang telah berkenan menjadi tempat pertama dimulainya program ini. Terima kasih juga kepada seluruh Bapak dan Ibu yang telah hadir dan mengikuti pelatihan. Semoga kebaikan ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut hingga 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah,” tuturnya.
“Program ini juga menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-27 SOLOPEDULI. Semangat dan kiprah yang selama ini kami bangun akan terus kami lanjutkan dengan memperluas program hingga 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah,” tambahnya.
Pemilihan Masjid Laweyan sebagai lokasi perdana bukan tanpa alasan. Masjid Laweyan merupakan salah satu masjid bersejarah di Kota Surakarta dan dikenal sebagai salah satu pusat awal dakwah Islam di wilayah tersebut.
Takmir Masjid Laweyan, Ustaz Ipmawan Muhammad Iqbal, menyambut baik pemilihan Masjid Laweyan sebagai lokasi pembukaan Program Bebas Buta Al-Qur’an SOLOPEDULI.
“Menurut kami, pemilihan Masjid Laweyan sebagai lokasi kegiatan ini sangat tepat karena masjid ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangan dakwah Islam di Kota Surakarta. Dahulu, lokasi ini merupakan tempat ibadah yang kemudian menjadi masjid dan berkembang sebagai salah satu pusat dakwah Islam di Laweyan,” jelasnya.
“Ki Ageng Henis merupakan tokoh ulama dan penyebar agama Islam yang berdakwah di wilayah Laweyan. Beliau juga dikenal sebagai leluhur raja-raja Wangsa Mataram. Makamnya berada di dekat masjid ini sehingga Masjid Laweyan memiliki nilai sejarah yang sangat kuat,” lanjutnya.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan secara simbolis mockup dan wakaf Al-Qur’an dari Sidik Anshori dan Sulaeman perwakilan Kementerian Agama Kota Surakarta kepada Takmir Masjid Laweyan. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta.
dok.humas: Penyerahan Simbolis Wakaf Al-Qur'an oleh CEO LAZ SOLOPEDULI didampingi Perwakilan Kemenag Surakarta kepada Takmir Masjid Laweyan
Salah satu peserta, Vika Veprika Rismawati dari TPQ Masjid MTA Cabang Laweyan, mengaku mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dapat mengikuti kegiatan ini. Selain bisa bersilaturahmi dengan teman-teman sesama pengajar TPQ, kami juga mendapatkan ilmu baru dari metode pembelajaran yang disampaikan Ustaz Rudy. Insyaallah, metode ini akan kami terapkan di TPQ kami agar pembelajaran Al-Qur’an menjadi lebih mudah dan menarik bagi para santri,” ungkap Vika.
dok.humas: Paket Al-Qur'an untuk Peserta Pelatihan Program Bebas Buta Al-Qur'an
Melalui Program Bebas Buta Al-Qur’an 2026, SOLOPEDULI berharap wakaf Al-Qur’an dan peningkatan kapasitas pengajar dapat berjalan beriringan. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya berupa tersedianya mushaf Al-Qur’an di masjid, tetapi juga semakin banyak masyarakat yang mendapatkan akses pembelajaran Al-Qur’an yang lebih baik.(snk)