Pergantian tahun sering kali identik dengan perayaan, kembang api, dan daftar resolusi yang ditulis dengan penuh semangat. Namun, beberapa hari setelahnya, semangat itu kerap meredup. Target tinggal target, rencana tinggal wacana. Dalam perspektif Islam, tahun baru sejatinya bukan sekadar pergantian angka di kalender, melainkan momentum untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu melangkah ke depan dengan arah yang lebih jelas.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk larut dalam euforia berlebihan saat pergantian waktu. Sebaliknya, setiap pergantian hari, bulan, dan tahun adalah pengingat bahwa umur terus berkurang dan kesempatan untuk beramal semakin sempit. Waktu adalah nikmat yang sering dilupakan, padahal nilainya sangat mahal.
Allah Swt. bahkan bersumpah atas nama waktu dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3, Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
Ayat ini menegaskan bahwa berlalunya waktu tidak otomatis membawa kebaikan. Tanpa iman dan amal saleh, manusia justru berada dalam kerugian. Maka, tahun baru seharusnya menjadi alarm untuk bermuhasabah, sudah sejauh mana iman dijaga dan amal ditumbuhkan?
Dalam Islam, perubahan yang paling esensial dikenal dengan istilah hijrah. Hijrah tidak selalu bermakna perpindahan fisik seperti yang dilakukan Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perpindahan sikap, kebiasaan, dan orientasi hidup. Dari yang lalai menjadi sadar, dari yang menunda menjadi segera, dari yang hanya mengejar dunia menjadi seimbang antara dunia dan akhirat.
Rasulullah saw. bersabda:
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberi makna hijrah yang sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Hijrah bisa berarti meninggalkan kebiasaan menunda salat, menjauh dari lisan yang mudah menyakiti, atau berhenti dari gaya hidup yang berlebihan. Hijrah bukan tentang siapa yang paling terlihat berubah, tetapi siapa yang paling konsisten memperbaiki diri.
Momentum tahun baru juga kerap diisi dengan resolusi. Dalam Islam, resolusi bukan sekadar daftar keinginan, melainkan niat yang disertai kesungguhan. Niat menjadi titik awal dari setiap amal. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Resolusi yang baik tidak harus muluk. Tidak semua orang mampu menargetkan hafal puluhan juz Al-Qur’an atau bersedekah dalam jumlah besar. Namun, resolusi kecil yang konsisten justru memiliki nilai yang besar di sisi Allah. Salat tepat waktu, menyisihkan sedekah secara rutin meski sedikit, atau meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an setiap hari adalah bentuk perubahan nyata yang sering kali diremehkan.
Tahun baru juga mengingatkan bahwa usia manusia terus bertambah, sementara jatah hidup semakin berkurang. Rasulullah saw. pernah mengingatkan tentang pentingnya memanfaatkan waktu sebelum datang masa penyesalan. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al-Hakim)
Hadis ini menjadi pengingat tegas bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Apa yang hari ini bisa dilakukan, belum tentu esok masih diberi peluang. Karena itu, menunda kebaikan dengan alasan “nanti” sering kali menjadi jebakan yang merugikan diri sendiri.
Alih-alih merayakan tahun baru dengan hura-hura, Islam mengajarkan umatnya untuk mengisinya dengan refleksi dan doa. Doa bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Memulai tahun dengan doa berarti menyerahkan langkah ke depan kepada Allah setelah berusaha sebaik mungkin.
Tahun boleh berganti, usia boleh bertambah, tetapi yang paling penting adalah apakah kualitas iman dan amal ikut bertumbuh. Jika tidak ada perubahan sama sekali dari tahun ke tahun, maka pergantian waktu hanya menjadi rutinitas tanpa makna.
Tahun baru sejatinya adalah undangan untuk berhijrah. Bukan hijrah yang penuh simbol, tetapi hijrah yang terasa dalam keseharian. Hijrah dari lalai menuju peduli, dari sekadar sibuk menuju produktif, dan dari hidup tanpa arah menuju hidup yang bernilai.
Tahun baru sejatinya bukan tentang seberapa banyak target yang ditetapkan, tetapi seberapa jujur kita menata niat dan memperbaiki langkah. Refleksi tanpa tindakan akan mudah berlalu, sementara amal nyata akan meninggalkan jejak kebaikan.
Salah satu bentuk hijrah yang bisa dimulai sejak awal tahun adalah dengan menunaikan zakat sebagai penyucian harta dan wujud kepedulian sosial. Melalui zakat, niat baik tidak hanya berhenti di hati, tetapi hadir sebagai manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Zakat anda dapat disalurkan melalui link berikut: AYO TUNAIKAN ZAKAT