Setiap pergantian tahun selalu membawa satu kesadaran yang sama, yaitu waktu terus bergerak, tanpa pernah menunggu siapa pun. Hari berganti, bulan berlalu, dan tanpa disadari, usia pun ikut bertambah. Dalam kesibukan menjalani rutinitas, manusia kerap merasa waktu berjalan biasa saja, padahal setiap detiknya adalah bagian dari nikmat yang tidak akan terulang.
Islam menempatkan waktu sebagai salah satu anugerah terbesar dalam kehidupan manusia. Ia bukan sekadar hitungan jam dan tanggal, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, awal tahun menjadi momen yang tepat untuk kembali bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh mana waktu yang Allah titipkan diisi dengan kebaikan?
Waktu sebagai Nikmat yang Sering Terabaikan
Al-Qur’an secara tegas mengingatkan manusia tentang nilai waktu. Salah satu surah yang paling sering dikutip dalam konteks ini adalah Surah Al-‘Ashr. Allah SWT berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Ayat ini singkat, tetapi sarat makna. Allah bahkan bersumpah atas nama waktu untuk menegaskan bahwa manusia pada dasarnya berada dalam kerugian apabila waktunya tidak diisi dengan iman dan amal saleh. Kerugian yang dimaksud bukan hanya soal materi, tetapi juga kerugian spiritual yang kerap tidak disadari.
Dalam kehidupan sehari-hari, waktu sering habis untuk hal-hal yang bersifat rutinitas. Bekerja, belajar, bersosialisasi, hingga beristirahat. Semua itu bukanlah hal yang salah. Namun persoalannya bukan pada kesibukan, melainkan pada arah dari setiap aktivitas yang dijalani.
Lalai di Tengah Kesibukan
Kesibukan kerap menjadi alasan utama mengapa seseorang merasa tidak memiliki cukup waktu untuk berbuat kebaikan. Padahal, kelalaian sering kali muncul bukan karena kurangnya waktu, melainkan karena kurangnya kesadaran dalam memanfaatkannya.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan umatnya tentang dua nikmat yang sering dilupakan manusia:
“Ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Hadist ini menggambarkan betapa manusia kerap baru menyadari nilai waktu ketika kesempatan itu telah berlalu. Saat sehat, waktu terasa biasa. Saat sibuk, kebaikan terasa bisa ditunda. Padahal, setiap penundaan adalah kehilangan kesempatan yang tidak akan kembali.
Awal tahun menjadi momen refleksi yang penting agar rutinitas tidak berubah menjadi kelalaian. Kesibukan duniawi semestinya tidak menjauhkan seseorang dari nilai-nilai kebaikan, justru seharusnya menjadi ladang untuk memperbanyak amal.
Mengisi Waktu dengan Amal, Meski Kecil
Sering kali kebaikan dibayangkan sebagai sesuatu yang besar dan membutuhkan banyak sumber daya. Akibatnya, banyak orang merasa belum mampu berbuat karena menganggap dirinya belum cukup. Padahal Islam mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu harus besar, yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensinya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya dengan wajah yang berseri ketika bertemu saudaramu.”
(HR. Muslim)
Hadist ini menegaskan bahwa kebaikan memiliki banyak bentuk. Amal kecil, jika dilakukan secara rutin, mampu memberi dampak yang besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam konteks waktu, amal kecil yang konsisten justru menjadi bukti bahwa seseorang sadar akan nilai setiap detik yang ia miliki. Membantu sesama, menyisihkan sebagian rezeki, atau sekadar mendoakan kebaikan bagi orang lain adalah cara sederhana mengisi waktu dengan makna.
Sedekah Sebagai Waktu yang Berharga
Salah satu bentuk amal yang dapat dilakukan secara konsisten adalah sedekah. Dalam Islam, sedekah tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Allah SWT berfirman:
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah sebaik-baik pemberi rezeki.”
(QS. Saba’: 39)
Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah bukanlah bentuk kehilangan, melainkan pengelolaan waktu dan rezeki yang bernilai ibadah. Sedekah yang dilakukan secara rutin, meskipun nominalnya kecil, menjadi bukti kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk berbuat baik.
Dalam konteks lembaga amil zakat, sedekah yang terkelola dengan baik dapat menjelma menjadi program-program berkelanjutan. Dari bantuan pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi, sedekah menjadi sarana untuk mengubah waktu menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
Menjadikan Awal Tahun sebagai Titik Balik
Awal tahun sering diidentikkan dengan resolusi. Sayangnya, resolusi kerap berhenti sebagai wacana tanpa tindak lanjut. Islam mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari niat, lalu dibuktikan dengan amal.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan tidak datang secara instan. Ia membutuhkan kesadaran, usaha, dan konsistensi. Mengisi waktu dengan kebaikan adalah salah satu bentuk perubahan yang paling nyata dan bisa dimulai kapan saja.
Menjadikan sedekah, zakat, dan infak sebagai bagian dari rutinitas bukan hanya membantu sesama, tetapi juga melatih diri untuk lebih peka terhadap nilai waktu. Dengan begitu, hari-hari yang berlalu tidak hanya tercatat sebagai usia yang bertambah, tetapi juga sebagai amal yang terus bertumbuh.
Waktu akan terus berjalan, terlepas dari bagaimana manusia mengisinya. Ia tidak bisa dihentikan, diperlambat, apalagi diulang. Yang bisa dilakukan hanyalah memastikan bahwa setiap kesempatan yang datang tidak berlalu tanpa makna.
Di awal tahun ini, pertanyaan tentang sejauh mana waktu diisi dengan kebaikan layak menjadi bahan renungan bersama. Karena sejatinya, keberuntungan seorang hamba tidak diukur dari seberapa sibuk hidupnya, tetapi dari seberapa banyak kebaikan yang ia tanam dalam setiap detik yang Allah titipkan.
Waktu tidak pernah berhenti menunggu kesiapan manusia. Ia terus berjalan, mencatat setiap pilihan yang diambil. Mengisi waktu dengan kebaikan adalah cara paling sederhana untuk memastikan hari-hari yang berlalu tidak sia-sia. Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan adalah menyisihkan sebagian harta untuk membantu mereka yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, seperti akses air bersih yang layak. Upaya pemenuhan akses air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan dapat didukung melalui: AYO DONASI SUMUR BOR UNTUK ACEH DAN SUMATRA