Pergantian tahun kerap diiringi berbagai harapan. Ada yang menuliskannya sebagai resolusi, ada pula yang sekadar menyimpannya dalam hati. Namun, tidak sedikit juga yang justru membuka awal tahun dengan keluhan, tentang hidup yang terasa berat, rencana yang belum tercapai, atau masa depan yang masih terasa samar.
Dalam Islam, awal waktu sejatinya bukan sekadar penanda berlalunya usia, melainkan momentum untuk kembali menata hubungan dengan Allah Swt. Salah satu cara paling sederhana, namun paling bermakna, adalah memulai tahun dengan doa.
Doa sebagai Awal dari Setiap Ikhtiar
Doa bukan hanya permohonan, tetapi bentuk pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Dalam setiap rencana yang disusun, ada hal-hal yang berada di luar kendali. Karena itu, Islam mengajarkan agar doa senantiasa mengiringi ikhtiar.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’”
(QS. Ghafir: 60)
Ayat tersebut menegaskan bahwa doa bukan sekadar pelengkap, melainkan perintah langsung dari Allah. Memulai tahun dengan doa berarti membuka lembaran waktu dengan kesadaran bahwa setiap langkah membutuhkan pertolongan-Nya.
Tawakal Setelah Usaha
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hanya berdoa tanpa usaha. Doa dan ikhtiar berjalan beriringan, lalu disempurnakan dengan tawakal. Setelah segala upaya dilakukan, seorang Muslim menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan lapang dada.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti diam tanpa gerak. Burung tetap terbang, berusaha mencari makan, namun rezekinya tetap datang atas izin Allah. Begitu pula dengan manusia dalam menyambut tahun yang baru.
Optimisme sebagai Sikap Seorang Muslim
Awal tahun juga menjadi waktu yang tepat untuk menumbuhkan optimisme. Islam memandang harapan sebagai bagian dari iman, selama tidak melahirkan keputusasaan. Sekalipun tahun sebelumnya dipenuhi kegagalan, Islam selalu membuka ruang untuk memperbaiki diri.
Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang optimis dan membenci sikap pesimis. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Tidak ada penyakit menular (yang berdiri sendiri tanpa izin Allah) dan aku menyukai optimisme.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Optimisme bukan berarti menutup mata dari kenyataan, tetapi memilih untuk tetap berharap pada rahmat Allah di tengah keterbatasan manusia. Dengan doa, seorang Muslim belajar melihat masa depan dengan keyakinan, bukan ketakutan.
Menutup Awal Tahun dengan Doa
Sebagai penutup, memulai tahun dengan doa dapat menjadi langkah kecil yang berdampak besar. Doa menenangkan hati, meluruskan niat, dan menguatkan langkah dalam menjalani hari-hari ke depan.
“Ya Allah, berkahilah kami di waktu yang Engkau anugerahkan. Tuntunlah langkah kami, kuatkan ikhtiar kami, dan jadikan setiap usaha sebagai jalan kebaikan di dunia dan akhirat.”
Awal tahun tidak harus selalu dimulai dengan resolusi yang panjang. Terkadang, doa yang tulus jauh lebih bermakna daripada daftar target yang tak sempat dijalankan.
Doa mengajarkan manusia untuk berharap tanpa putus asa dan berusaha tanpa sombong. Di tengah musibah yang menimpa sejumlah wilayah di Sumatra, masyarakat dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing. Selain mendoakan, dukungan kemanusiaan dapat disalurkan melalui: AYO DONASI UNTUK SUMATRA