Menjelang peringatan Isra Miraj, umat Islam kembali diingatkan pada salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah kenabian. Isra Miraj bukan sekadar kisah perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Peristiwa ini menyimpan pesan mendalam tentang hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, yang diwujudkan melalui salat.
Di tengah kesibukan hidup modern, salat sering kali dijalani sebagai rutinitas yang terasa mekanis. Dilakukan karena kewajiban, namun belum tentu dihayati maknanya. Padahal, Isra Miraj hadir sebagai pengingat bahwa salat bukan sekadar ritual, melainkan fondasi utama kehidupan seorang Muslim.
Momen menjelang Isra Miraj menjadi waktu yang tepat untuk kembali memaknai salat, tidak hanya sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai sumber nilai yang membentuk kepedulian sosial.
Isra Miraj sebagai Peristiwa Spiritual Umat Islam
Isra Miraj adalah peristiwa luar biasa yang terjadi pada masa sulit dalam kehidupan Rasulullah SAW. Setelah kehilangan istri tercinta, Khadijah RA, dan pamannya, Abu Thalib, Rasulullah menghadapi tekanan berat dalam dakwahnya. Dalam kondisi itulah Allah SWT memperjalankan Rasul-Nya sebagai bentuk penguatan iman dan penghiburan batin.
Allah SWT berfirman:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Miraj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang sarat makna. Dalam peristiwa inilah, salat lima waktu diwajibkan langsung oleh Allah SWT, tanpa perantara wahyu di bumi.
Hal ini menunjukkan kedudukan salat yang istimewa. Jika sebagian besar perintah ibadah diturunkan melalui malaikat Jibril, maka salat diperintahkan secara langsung dalam peristiwa agung. Ini menjadi isyarat bahwa salat adalah tiang utama dalam kehidupan seorang Muslim.
Salat sebagai Pondasi Kehidupan Seorang Muslim
Salat bukan hanya kewajiban harian, tetapi juga pondasi yang menjaga keseimbangan hidup. Ia menjadi penghubung antara manusia dan Allah SWT, sekaligus penopang spiritual di tengah berbagai ujian kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah merobohkan agama.”
(HR. Thabrani)
Hadist ini menegaskan bahwa kualitas keberagamaan seseorang sangat berkaitan dengan salatnya. Salat yang dijaga dengan baik akan memengaruhi sikap, cara berpikir, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an juga menegaskan fungsi salat sebagai penjaga moral. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa salat bukan hanya soal gerakan dan bacaan, tetapi juga tentang dampaknya. Salat yang dilakukan dengan khusyuk akan membentuk kesadaran diri, menumbuhkan kejujuran, dan menahan seseorang dari perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Ketika Salat Belum Berbuah dalam Kehidupan
Namun realitasnya, tidak sedikit orang yang rutin melaksanakan salat, tetapi perilakunya belum mencerminkan nilai-nilai salat itu sendiri. Salat tetap dikerjakan, tetapi kepedulian terhadap sesama masih rendah. Ibadah berjalan, namun empati belum tumbuh.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa salat tidak cukup hanya dilakukan, tetapi juga perlu dihayati. Rasulullah SAW pernah mengingatkan:
“Betapa banyak orang yang salat, namun tidak mendapatkan dari salatnya kecuali rasa lelah.”
(HR. Ahmad)
Hadist ini menjadi cermin bahwa salat bisa kehilangan maknanya jika tidak diiringi dengan kesadaran dan penghayatan. Salat yang benar seharusnya membentuk kepekaan sosial, karena di dalamnya terdapat nilai kesetaraan, kedisiplinan, dan kepedulian.
Hubungan Salat dan Kepedulian Sosial
Salat yang dijalani dengan kesadaran akan melahirkan empati. Setiap kali berdiri menghadap Allah SWT, seorang hamba diingatkan akan kelemahan dirinya. Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan rasa peduli terhadap orang lain yang hidup dalam keterbatasan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengaitkan ibadah dengan kepedulian sosial. Salah satunya dalam firman-Nya:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)
Surah ini menunjukkan bahwa ibadah yang sejati tidak bisa dilepaskan dari kepedulian terhadap sesama. Salat yang benar seharusnya mendorong seseorang untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
Dari sinilah nilai zakat, infak, dan sedekah menemukan relevansinya. Kepedulian yang lahir dari salat diwujudkan dalam tindakan nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan. Ibadah vertikal bertemu dengan tanggung jawab sosial.
Menjelang Isra Miraj, Saatnya Memperbaiki Kualitas Salat
Menjelang peringatan Isra Miraj, umat Islam diajak untuk tidak hanya mengingat peristiwanya, tetapi juga merefleksikan pesan utamanya. Salat adalah hadiah istimewa dari Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW. Ia bukan beban, melainkan kebutuhan spiritual.
Memperbaiki kualitas salat tidak selalu berarti menambah jumlah ibadah sunnah, tetapi juga memperbaiki niat, kekhusyukan, dan dampaknya dalam kehidupan. Salat yang baik akan melahirkan pribadi yang lebih sabar, jujur, dan peduli.
Dalam konteks kehidupan sosial, salat yang bermakna akan mendorong seseorang untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama. Dari kesadaran inilah lahir semangat berbagi dan membantu, baik melalui zakat, infak, maupun sedekah.
Isra Miraj adalah pengingat bahwa salat menempati posisi sentral dalam kehidupan seorang Muslim. Ia bukan sekadar kewajiban yang diulang setiap hari, tetapi fondasi yang membentuk karakter dan kepedulian sosial.
Menjelang Isra Miraj, sudah sepatutnya setiap Muslim kembali menengok kualitas salatnya. Apakah salat yang dijalani sudah menghadirkan ketenangan? Apakah ia sudah mendorong untuk lebih peduli pada sesama?
Karena sejatinya, salat yang hidup akan melahirkan empati. Dan dari empati itulah, kebaikan sosial tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Isra Miraj mengingatkan bahwa salat bukan hanya ibadah personal, tetapi juga membentuk kepekaan sosial. Dari salat yang dijalani dengan kesadaran, lahir empati dan dorongan untuk berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah sebagai bagian dari ibadah itu sendiri. Kepedulian tersebut dapat diwujudkan dengan menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana di Sumatra melalui: AYO DONASI UNTUK SUMATRA