Pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatra, SOLOPEDULI terus melakukan berbagai upaya kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak. Hingga saat ini, masih banyak fasilitas umum di Kabupaten Bireuen yang belum sepenuhnya mendapatkan akses bantuan, mulai dari sekolah, masjid, rumah sakit, hingga fasilitas umum lainnya.
Salah satu aksi kemanusiaan yang dilakukan SOLOPEDULI adalah menggelar Aksi Bersih Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 43 Bireuen, Desa Cot Ara, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 11 Januari 2026, bekerja sama dengan relawan Pramuka Kabupaten Bireuen.
dok.humas: Pembersihan Lingkungan Sekolah MIN 43 Cot Ara, Kuta Blang, Bireuen, oleh SOLOPEDULI dan relawan
Diketahui, MIN 43 Bireuen merupakan salah satu sekolah yang terdampak cukup parah akibat banjir bandang. Sekolah ini belum dapat beroperasi secara maksimal sejak jadwal masuk sekolah yang seharusnya dimulai pada 5 Januari 2026. Hingga 11 Januari 2026, para siswa belum dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar karena kondisi sekolah yang masih dipenuhi lumpur sisa banjir.
Dalam kegiatan tersebut, seluruh siswa, guru, serta staf sekolah bergotong royong bersama tim SOLOPEDULI dan relawan Pramuka membersihkan ruang kelas, halaman sekolah, kamar mandi, serta fasilitas pendukung lainnya.
Selain aksi bersih sekolah, SOLOPEDULI juga menyalurkan bantuan berupa ratusan mushaf Al-Qur’an dan paket logistik sembako untuk mendukung pemulihan kegiatan pendidikan di sekolah tersebut. Adapun total penerima manfaat dalam kegiatan ini adalah 191 siswa serta 16 guru dan staf MIN 43 Bireuen.
dok.humas: Penyaluran Mushaf Al-Qur'an dan Sembako untuk Guru dan Murid MIN 43 oleh SOLOPEDULI dan Relawan
Relawan SOLOPEDULI di Aceh, Irfan, menjelaskan bahwa kondisi sekolah dan lingkungan sekitar terdampak cukup berat karena wilayah Cot Ara merupakan daerah buangan aliran Sungai Kuta Blang.
“Kami melaksanakan aksi pembersihan di MIN 43 Cot Ara, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen. Sekolah ini terdampak cukup parah karena wilayah Cot Ara merupakan daerah buangan Sungai Kuta Blang. Akibatnya, hampir seluruh area, termasuk sawah dan lingkungan sekitar, tertutup hamparan lumpur,” ujar Irfan.
“Kami mohon doa agar kegiatan ini berjalan lancar dan anak-anak dapat segera kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar,” imbuh Irfan.
Sebagai informasi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bireuen telah mewajibkan seluruh satuan pendidikan untuk kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka mulai 5 Januari 2026, setelah sebelumnya aktivitas sekolah terhenti akibat banjir besar yang terjadi pada akhir November 2025. Namun, di sejumlah sekolah terdampak berat seperti MIN 43 Bireuen, proses pemulihan masih membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Melalui aksi ini, SOLOPEDULI berharap dapat membantu mempercepat pemulihan sektor pendidikan sekaligus mengembalikan semangat belajar para siswa pascabencana.(snk)