SOLOPEDULI Dukung Syiar Keuangan Syariah BI Di Syekaten 2026 Lewat Wakaf Produktif 

LAZ SOLOPEDULI turut menjadi lembaga pendukung penguatan syiar keuangan syariah yang diinisiasi Bank Indonesia (BI) melalui Festival Syekaten (Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren) Tahun 2026. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pengembangan wakaf produktif berupa budidaya pisang cavendish sebagai unit usaha produktif di Pesantren Baiturrahmah SOLOPEDULI, Klaten.

Atas kontribusi tersebut, SOLOPEDULI menerima apresiasi dari Bank Indonesia sebagai salah satu lembaga keuangan syariah yang berkolaborasi dalam pengembangan ekonomi syariah berbasis pesantren melalui program wakaf produktif.

Apresiasi tersebut diterima langsung oleh CEO LAZ SOLOPEDULI, Sidik Anshori, S.Sos.I., dari Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, dalam rangkaian Festival Syekaten 2026 yang berlangsung di Solo Square Mall, Ahad (30/8/2026).

dok.humas: Penerimaan Apresiasi oleh BI Solo kepada LAZ SOLOPEDULI

Festival Syekaten 2026 mengusung tema “Sinergi Berkarya, Halal Berdaya” dan berlangsung selama tiga hari. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem rantai nilai halal (halal value chain) di wilayah Solo Raya, termasuk melalui pengembangan ekonomi syariah di lingkungan pesantren.

Melalui program wakaf produktif, SOLOPEDULI memanfaatkan tanah wakaf untuk budidaya pisang cavendish. Program tersebut tidak hanya menjadi upaya optimalisasi aset wakaf, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi pesantren melalui unit usaha yang dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Pengembangan unit usaha produktif ini diharapkan dapat mendukung keberlangsungan pendidikan di Pesantren Baiturrahmah SOLOPEDULI, Klaten, yang memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak yang membutuhkan. Dengan demikian, manfaat wakaf tidak berhenti pada pemanfaatan aset, tetapi dapat terus berkembang menjadi sumber kebermanfaatan bagi pesantren dan para santri.

Kepala KPw BI Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, mengatakan bahwa pengembangan ekonomi syariah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi, pesantren, HEBITREN, BAZNAS, Kementerian Agama, OJK, hingga pihak swasta diperlukan untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah.

“Pengembangan ekonomi syariah tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus ada sinergi antara perguruan tinggi, pesantren, HEBITREN, BAZNAS, Kemenag, OJK, hingga pihak swasta,” ujarnya.

Dalam Festival Syekaten Tahun 2026, penguatan ekonomi pesantren juga menjadi salah satu perhatian melalui pengembangan wakaf produktif. Pemanfaatan tanah wakaf untuk budidaya pisang cavendish menjadi salah satu bentuk nyata pengembangan aset wakaf agar memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat sosial.

Bagi SOLOPEDULI, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman dan praktik wakaf produktif di tengah masyarakat. Wakaf tidak hanya dipandang sebagai aset yang digunakan untuk kepentingan sosial dan keagamaan, tetapi juga dapat dikelola secara produktif untuk mendukung pemberdayaan ekonomi umat.

CEO LAZ SOLOPEDULI, Sidik Anshori, S.Sos.I., menyampaikan rasa syukur atas kesempatan SOLOPEDULI untuk turut berkolaborasi dengan Bank Indonesia dalam pengembangan ekonomi syariah berbasis pesantren.

dok.humas: CEO LAZ SOLOPEDULI, Sidik Anshori, S.Sos.I. dalam Festival Syekaten 2026

“Kami senang dan bersyukur dapat turut diundang serta menerima apresiasi dari Bank Indonesia. Bagi SOLOPEDULI, kesempatan ini bukan sekadar apresiasi, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus mengembangkan wakaf agar memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi umat,” ujar Sidik.

Menurut Sidik, program budidaya pisang cavendish menjadi salah satu ikhtiar SOLOPEDULI dalam menjadikan wakaf sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat. Pengelolaan wakaf secara produktif diharapkan mampu menciptakan manfaat yang berkelanjutan, khususnya bagi keberlangsungan pendidikan di pesantren.

“Kami berharap wakaf produktif ini dapat terus berkembang sehingga mampu memberikan manfaat bagi pesantren, khususnya dalam mendukung pendidikan gratis bagi anak-anak di Pesantren Baiturrahmah SOLOPEDULI. Kami juga berharap kolaborasi seperti ini dapat terus diperkuat agar semakin banyak aset wakaf yang dapat dikelola secara produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Sidik menambahkan, SOLOPEDULI berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mengembangkan program pemberdayaan ekonomi berbasis zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Melalui kolaborasi dalam Festival Syekaten 2026, SOLOPEDULI berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal potensi wakaf produktif sekaligus memahami bahwa pengelolaan aset wakaf secara tepat dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi dan keberlanjutan manfaat bagi umat.(snk)