SOLOPEDULI menyelenggarakan Temu Duta Peduli yang dirangkai dengan Workshop Smart Farming bertajuk “Lahan Sempit Jadi Produktif: Strategi Ketahanan Pangan Keluarga” di Hotel Minoa Surakarta, Ahad (25/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus edukasi bagi para Duta Peduli untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan mengembangkan kemandirian pangan yang dapat dimulai dari rumah.
Workshop ini mengangkat pentingnya pemanfaatan lahan terbatas dan pengelolaan sumber daya di sekitar tempat tinggal agar lebih produktif. Melalui pengenalan pertanian yang praktis dan berkelanjutan, peserta diajak memahami bahwa upaya membangun ketahanan pangan keluarga tidak selalu membutuhkan lahan luas maupun biaya besar.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-27 SOLOPEDULI yang mengusung tema “Mengakar melalui Pendidikan, Menumbuhkan Kemandirian, Mewujudkan Peradaban Berkelanjutan.” Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukatif yang tidak hanya memperkuat hubungan dengan para Duta Peduli, tetapi juga mendorong penerapan gaya hidup yang lebih peduli lingkungan. Dorong Pemanfaatan Lahan Sempit melalui Smart Farming, CEO LAZ SOLOPEDULI, Sidik Anshori, S.Sos.I., hadir sebagai keynote speaker. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa Smart Farming bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, melainkan tentang kecerdasan dalam mengelola lahan dan sumber daya agar memberikan manfaat yang optimal.
Dalam kegiatan Temu Duta Peduli ini, SOLOPEDULI juga meluncurkan dua program, yaitu Bebas Buta Al-Qur’an dan Z-PRO (Zakat Profesional Training). Peluncuran ini menjadi bagian dari komitmen SOLOPEDULI dalam memperluas manfaat zakat melalui program pendidikan keagamaan dan peningkatan kapasitas penerima manfaat.
dok.humas : Penyampaian Materi Oleh Sri Widodo pemilik Yoso Farm dan Moderator Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E., M.Si.,
Program Bebas Buta Al-Qur’an dihadirkan sebagai ikhtiar untuk memperluas akses masyarakat terhadap pembelajaran Al-Qur’an. Melalui program ini, SOLOPEDULI berkomitmen menjangkau berbagai kota di Jawa Tengah serta mendistribusikan 27 ribu mushaf Al-Qur’an. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kegiatan belajar membaca Al-Qur’an dan memperluas kesempatan masyarakat untuk berinteraksi dengan kitab suci. Sementara itu, Z-PRO (Zakat Profesional Training) merupakan program pelatihan profesional berbasis zakat yang dirancang untuk mendukung peningkatan kapasitas penerima manfaat. Melalui program ini, zakat tidak hanya diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pengembangan potensi dan keterampilan agar penerima manfaat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemandirian.
Kehadiran kedua program tersebut melengkapi upaya SOLOPEDULI dalam mengembangkan program yang berorientasi pada kebermanfaatan jangka panjang. Melalui pendidikan Al-Qur’an dan pelatihan profesional, SOLOPEDULI berharap semakin banyak masyarakat memperoleh akses terhadap pembelajaran, pengembangan diri, dan peluang untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.
dok. humas: Pemaparan Materi oleh CEO LAZ SOLOPEDULI, Sidik Anshori, S.Sos.I.,
“Smart farming bukan sekadar bertani, melainkan bagaimana kita cerdas dalam mengelola lahan produktif. Harapannya, setelah pulang dari sini, kita semakin mencintai lingkungan dan bergerak bersama menjaga kelestariannya,” ungkapnya. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan lahan di sekitar rumah, pengurangan sampah, dan pengelolaan sumber daya secara bijak merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih lestari sekaligus mendukung kemandirian keluarga.
Kegiatan ini menghadirkan Sri Widodo, pemilik Yoso Farm, sebagai narasumber. Sementara itu, Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E., M.Si., Dewan Pengawas SOLOPEDULI, bertugas sebagai moderator yang memandu jalannya kegiatan. Mengolah Sampah Menjadi Sumber Daya Produktif. Dalam sesi workshop, Sri Widodo memperkenalkan berbagai pendekatan pertanian terpadu yang dapat diterapkan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah organik agar tidak sekadar menjadi limbah, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya yang mendukung kegiatan budidaya.
Melalui konsep Integrated Farming atau pertanian terpadu, peserta diajak memahami keterkaitan antara pertanian, peternakan, perikanan, dan pengelolaan sampah. Dalam sistem ini, sumber daya dari satu kegiatan berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lainnya sehingga penggunaan bahan dan sumber daya dapat dilakukan secara lebih efisien. Penerapan konsep tersebut dapat dimulai melalui home farming, yaitu kegiatan budidaya skala rumah tangga yang menyesuaikan kondisi dan kemampuan keluarga. Sisa bahan organik dari dapur dan kebun, misalnya, dapat dipilah dan diolah menjadi kompos untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Selain itu, pemilahan sampah organik menjadi langkah penting sebelum proses pengolahan dilakukan. Sampah yang dikelola dengan tepat dapat memiliki nilai guna, sekaligus membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan. Workshop ini juga membahas pembuatan kompos untuk budidaya, pemanfaatan limbah, serta pengenalan metode sederhana yang dapat dipraktikkan oleh pemula. Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan memperoleh gambaran bahwa pengelolaan lingkungan dan kegiatan produktif dapat berjalan beriringan.
Membangun Ketahanan Pangan dari Rumah. Sesuai tema yang diangkat, workshop Smart Farming menekankan pentingnya membangun ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan sempit secara optimal. Pekarangan maupun ruang terbatas di sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya sesuai dengan kondisi lingkungan dan sumber daya yang tersedia.
Upaya ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan bahan pangan secara mandiri, tetapi juga mendorong keluarga untuk lebih bijak dalam mengelola kebutuhan sehari-hari. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, keluarga dapat mulai mengenal proses produksi pangan sekaligus mengembangkan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan. Materi yang disampaikan juga diarahkan agar mudah dipahami dan dapat diterapkan oleh peserta yang baru memulai. Prinsipnya, kegiatan pertanian rumah tangga tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi awal untuk membangun kebiasaan produktif dan berkelanjutan.
Melalui edukasi ini, SOLOPEDULI berharap para Duta Peduli dapat membawa pengetahuan yang diperoleh ke lingkungan masing-masing, kemudian membagikannya kepada keluarga dan masyarakat sekitar.
Memperkuat Kolaborasi untuk Keberlanjutan. Temu Duta Peduli menjadi salah satu upaya SOLOPEDULI dalam menjaga hubungan dan memperkuat keterlibatan para Duta Peduli dalam mendukung berbagai program sosial. Peran Duta Peduli tidak hanya berkaitan dengan dukungan terhadap program lembaga, tetapi juga dapat menjadi penggerak kepedulian di lingkungan masing-masing. Melalui kegiatan yang memadukan silaturahmi dan edukasi, SOLOPEDULI mendorong agar semangat berbagi turut diwujudkan melalui pertukaran pengetahuan, praktik ramah lingkungan, dan penguatan kemandirian masyarakat.
dok.humas: Melakukan Dokumentasi Bersama
Workshop Smart Farming ini diharapkan menjadi langkah awal bagi peserta untuk menerapkan pengelolaan sampah dan pemanfaatan lahan secara lebih produktif. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat dipraktikkan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing keluarga. Melalui kolaborasi dengan para Duta Peduli dan berbagai pihak, SOLOPEDULI terus berupaya menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat membangun ketahanan pangan keluarga dan menjaga kelestarian lingkungan diharapkan dapat tumbuh dari langkah-langkah sederhana, dimulai dari rumah, dan berkembang menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan peradaban yang berkelanjutan.