Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharram. Di tengah masyarakat, bulan ini sering dikaitkan dengan berbagai anggapan, mulai dari keutamaan tertentu hingga mitos yang menyebutnya sebagai bulan penuh kesialan. Tidak sedikit pula yang masih mempercayai berbagai tradisi yang tidak memiliki landasan dalam ajaran Islam.
Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk memahami setiap bulan dalam kalender Hijriah berdasarkan Al-Qur'an dan hadis yang sahih. Dengan memahami makna Bulan Safar secara benar, seorang muslim dapat menjalani bulan ini dengan penuh keyakinan kepada Allah Swt., memperbanyak amal saleh, dan terhindar dari keyakinan yang bertentangan dengan akidah.
Bulan Safar Adalah Bulan Kedua dalam Kalender Hijriah
Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah yang datang setelah Muharram dan sebelum Rabiulawal. Kalender Hijriah sendiri merupakan sistem penanggalan Islam yang didasarkan pada peredaran bulan (qamariyah), sehingga memiliki peran penting dalam menentukan berbagai ibadah, seperti puasa, zakat, dan haji.
Secara bahasa, kata Safar berasal dari bahasa Arab yang memiliki beberapa makna. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa nama ini berasal dari kondisi masyarakat Arab pada masa dahulu yang meninggalkan rumah mereka untuk bepergian atau berperang sehingga rumah-rumah menjadi kosong (shifr). Ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan kebiasaan masyarakat Arab melakukan perjalanan setelah berakhirnya bulan-bulan haram.
Dalam ajaran Islam, Bulan Safar tidak memiliki makna sebagai bulan yang membawa keburukan ataupun kesialan. Sebagaimana bulan-bulan Hijriah lainnya, Safar adalah bagian dari waktu yang Allah ciptakan sebagai kesempatan bagi manusia untuk memperbanyak amal saleh dan meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.
Keutamaan Bulan Safar dan Amalan yang Dianjurkan bagi Umat Islam
Berbeda dengan Ramadan atau bulan-bulan haram yang memiliki keutamaan khusus berdasarkan dalil yang jelas, Bulan Safar tidak memiliki ibadah tertentu yang diwajibkan ataupun dianjurkan secara khusus. Meski demikian, bukan berarti seorang muslim mengabaikan bulan ini. Setiap waktu dalam kehidupan merupakan kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Selama Bulan Safar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berbagai amalan saleh, seperti menjaga salat wajib tepat waktu, memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, memperbanyak istigfar, bersedekah, serta membantu sesama. Amal-amal tersebut memiliki keutamaan kapan pun dilakukan, termasuk pada Bulan Safar.
Selain itu, Bulan Safar juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri dan memperbaiki kualitas ibadah. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Oleh karena itu, yang terpenting bukanlah mencari amalan khusus di Bulan Safar, melainkan menjaga keistiqamahan dalam beribadah sepanjang tahun.
Mitos tentang Bulan Safar yang Perlu Diluruskan Menurut Islam
Salah satu mitos yang paling banyak berkembang adalah anggapan bahwa Bulan Safar merupakan bulan sial sehingga tidak baik digunakan untuk menikah, memulai usaha, bepergian, atau melakukan kegiatan penting lainnya. Keyakinan seperti ini telah ada sejak masa jahiliah dan masih ditemukan di sebagian masyarakat hingga saat ini.
Padahal, Rasulullah saw. telah meluruskan keyakinan tersebut melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:
"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena burung, tidak ada kesialan pada bulan Safar, dan tidak ada hantu (hamah)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam menolak keyakinan terhadap kesialan yang dikaitkan dengan waktu, tempat, atau benda tertentu. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seorang hamba berlangsung atas kehendak dan takdir Allah Swt., bukan karena datangnya Bulan Safar.
Para ulama juga menjelaskan bahwa menganggap Bulan Safar sebagai bulan pembawa sial termasuk keyakinan yang tidak memiliki dasar syariat. Seorang muslim hendaknya menggantungkan harapan, rasa takut, dan tawakal hanya kepada Allah Swt. serta tidak terpengaruh oleh mitos maupun kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebagai seorang muslim, sikap terbaik dalam menyambut Bulan Safar adalah mengisinya dengan amal saleh, memperkuat keimanan, memperbanyak doa, serta terus berbuat kebaikan kepada sesama. Dengan demikian, kita dapat menjalani setiap bulan dalam kalender Hijriah dengan penuh optimisme dan keyakinan bahwa seluruh ketentuan terbaik berasal dari Allah Swt.
Penutup
Bulan Safar bukanlah bulan yang identik dengan kesialan sebagaimana mitos yang berkembang di masyarakat. Islam mengajarkan bahwa setiap bulan merupakan kesempatan untuk memperbanyak ibadah, meningkatkan ketakwaan, dan menebarkan manfaat bagi sesama. Dengan memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an dan hadis yang sahih, umat Islam dapat terhindar dari keyakinan yang tidak berdasar serta menjalani Bulan Safar dengan penuh keimanan.
Mari Tebarkan Kebaikan di Bulan Safar
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam adalah membantu sesama yang membutuhkan. Di Bulan Safar ini, mari jadikan momentum untuk menghadirkan manfaat yang nyata melalui sedekah terbaik.
Masih banyak saudara kita di daerah pedalaman yang kesulitan mendapatkan akses air bersih yang layak dan aman. Anda dapat menjadi bagian dari solusi dengan mendukung program penyediaan air bersih bersama SOLOPEDULI.
Salurkan donasi terbaik Anda melalui SOLOPEDULI.
Semoga setiap tetes air yang mengalir menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya serta membawa keberkahan bagi para penerima manfaat maupun para donatur.