SOLOPEDULI Resmikan Warung Bakso Pak Wijianto, Wujudkan Kemandirian Ekonomi Berbasis Zakat

SOLOPEDULI mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui program pemberdayaan berbasis zakat. Kali ini, bantuan modal usaha diberikan kepada Bapak Wijianto, pedagang bakso keliling asal Desa Sajen, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, untuk membuka warung mie ayam dan bakso.

Bantuan tersebut disalurkan pada 5 Februari 2026 melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Kampung Zakat yang diinisiasi SOLOPEDULI berkolaborasi dengan Kementerian Agama Kabupaten Klaten. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh tim program SOLOPEDULI, Cici Andriansyah dan Razky, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan usaha mikro masyarakat.

dok.humas: Tim program Solopeduli mengunjungi warung bakso Pak Wijianto

Selama kurang lebih 20 tahun, Bapak Wijianto berkeliling dari kampung ke kampung menjajakan bakso kuah untuk menghidupi keluarga. Dari usaha tersebut, ia memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp1.500.000 per bulan. Sementara itu, sang istri turut membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai juru masak di sebuah sekolah dengan penghasilan sekitar Rp350.000 per bulan. Anak bungsu mereka yang kini duduk di kelas I SMP masih sepenuhnya menjadi tanggungan orang tua.

Seiring bertambahnya usia, kondisi fisik yang tidak lagi sekuat dahulu menjadi tantangan tersendiri. Keinginan untuk memiliki warung tetap pun muncul sebagai upaya menjaga kestabilan dan keberlanjutan usaha.

Melalui program pemberdayaan ini, SOLOPEDULI memberikan bantuan berupa gerobak, kompor gas Wos, meja, kursi, serta media promosi berupa MMT. Tidak hanya dukungan sarana, SOLOPEDULI juga memberikan pendampingan usaha secara berkala, meliputi pencatatan keuangan sederhana, peningkatan kualitas pelayanan, hingga strategi pengembangan usaha agar mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Pada 30 Januari 2026, warung mie ayam dan bakso milik Bapak Wijianto resmi berdiri di Jalan Sajen, Trucuk. Ia juga menambah menu mie ayam guna memperluas pilihan bagi pelanggannya. Saat ini, dalam satu hari rata-rata terjual sekitar 40 porsi dan kerap menerima pesanan untuk berbagai kegiatan warga. 

Program ini menjadi wujud nyata pengelolaan zakat yang produktif dan berorientasi pada kemandirian mustahik. SOLOPEDULI tidak hanya menyalurkan bantuan sesaat, tetapi menghadirkan solusi berkelanjutan agar penerima manfaat dapat berkembang dan mandiri secara ekonomi.

“Terima kasih kepada SOLOPEDULI atas program pemberdayaan ekonomi ini. Dari saya berjualan keliling, kini bisa membuka warung mie ayam dan bakso. Semoga usaha ini semakin lancar dan berkembang,” ujar Bapak Wijianto.

Melalui langkah ini, SOLOPEDULI berharap semakin banyak pelaku usaha kecil yang bangkit dan bertumbuh, sehingga zakat yang ditunaikan para muzakki benar-benar menghadirkan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.(snk)