Tembus Akses Sulit Perbatasan Wonogiri, Abon Djoss SOLOPEDULI Hadirkan Manfaat Qurban Berjangka Panjang Bagi Warga 3T

Sebagai upaya memperluas manfaat ibadah qurban hingga ke wilayah minim akses dan minim distribusi hewan qurban, SOLOPEDULI melalui Tim Program menyalurkan Abon Djoss, produk inovasi olahan daging qurban 1447 H, kepada masyarakat di Dusun Bugelan, Desa Bugelan, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri, pada Rabu (10/6/2026).

Penyaluran ini menyasar daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang berada di kawasan pegunungan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebanyak 60 keluarga di dusun tersebut menerima manfaat dari program tersebut. Seluruh paket Abon Djoss diantarkan langsung secara door to door ke rumah-rumah warga untuk memastikan bantuan diterima dengan baik oleh masyarakat yang membutuhkan.

Dusun Bugelan merupakan salah satu wilayah yang tergolong minim qurban karena akses menuju lokasi cukup sulit dilalui. Kondisi geografis berupa daerah pegunungan membuat distribusi hewan qurban ke wilayah ini tidak semudah daerah lain. Karena itu, kehadiran Abon Djoss menjadi solusi agar masyarakat tetap dapat merasakan manfaat qurban meskipun berada di pelosok.

dok.humas: Tim Program SOLOPEDULI Menyalurkan Abon Djoss Qurban dari Sohibul Qurban SOLOPEDULI

Mayoritas masyarakat Desa Bugelan bekerja sebagai petani dan pekebun. Komoditas yang banyak dibudidayakan antara lain cengkeh, janggelan, temu, dan jagung. Hasil pertanian dan perkebunan tersebut menjadi sumber utama penghasilan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya sebagai wakil warga mengucapkan terima kasih atas kedatangan SOLOPEDULI ke dusun kami, karena bantuan berupa abon ini akan sangat berarti bagi kami di gunung seperti ini, yang minim mendapatkan qurban,” ujar Bapak Rimin salah satu tokoh masyarakat di Dusun Bugelan.

Program Abon Djoss merupakan inovasi pengelolaan daging qurban yang dilakukan SOLOPEDULI agar manfaat qurban dapat dirasakan lebih luas dan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Melalui proses pengolahan menjadi abon, daging qurban menjadi lebih tahan lama serta lebih mudah didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Pengolahan daging qurban menjadi produk abon juga telah sesuai dengan ketentuan syariah. Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 37 Tahun 2019, pengawetan dan pendistribusian daging hewan qurban dalam bentuk olahan hukumnya mubah (boleh). Berlandaskan fatwa tersebut, SOLOPEDULI menghadirkan Abon Djoss sebagai salah satu inovasi untuk mengoptimalkan manfaat qurban dari para sohibul qurban.

Chief Program SOLOPEDULI, Megawati, menjelaskan bahwa pada pelaksanaan qurban tahun ini terdapat puluhan hewan qurban yang diolah menjadi Abon Djoss.

“Total hewan qurban yang diolah menjadi Abon Djoss terdiri dari 30 ekor sapi dan 224 ekor domba. Selain itu, jumlah sohibul qurban yang mempercayakan qurbannya melalui SOLOPEDULI juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Melalui program ini, SOLOPEDULI berharap manfaat qurban tidak hanya dirasakan saat Hari Raya Idul Adha, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat di wilayah pelosok yang selama ini jarang menerima distribusi qurban dengan jangka waktu yang lebih panjang. Dengan demikian, amanah para sohibul qurban dapat memberikan kebermanfaatan yang lebih luas, merata, dan berkelanjutan bagi masyarakat yang membutuhkan.(snk)