Komitmen SOLOPEDULI dalam menghadirkan manfaat qurban hingga pelosok negeri kembali diwujudkan pada pelaksanaan Idul Adha 1447 H. Hingga berakhirnya hari tasyrik, SOLOPEDULI telah menuntaskan proses penyembelihan dan penyaluran hewan qurban dari para sohibul qurban kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sampai dengan pekan ini, Rabu (3/6/2026), SOLOPEDULI mencatat sebanyak 99.392 penerima manfaat telah merasakan keberkahan qurban yang disalurkan, baik dalam bentuk daging qurban konvensional maupun olahan abon qurban.
“Alhamdulillah, hingga berakhirnya hari tasyrik, SOLOPEDULI telah menyalurkan manfaat qurban kepada masyarakat di berbagai wilayah Jawa Tengah dan daerah 3T yang telah kami petakan sebelumnya. Sampai saat ini, sebanyak 99.392 penerima manfaat telah merasakan keberkahan qurban dari para sohibul qurban, baik melalui distribusi qurban konvensional maupun dalam bentuk abon,” ujar Megawati Nurjannah, Chief Program Officer SOLOPEDULI.
Pada tahun ini, SOLOPEDULI mengelola qurban sebanyak 24 ekor sapi dengan 156 sohibul qurban sapi, serta 488 ekor domba yang diamanahkan oleh 488 sohibul qurban domba.
Untuk menjaga kualitas dan keamanan proses penyembelihan, qurban sapi dikelola melalui Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Salatiga. Proses penyembelihan dilakukan dengan dukungan fasilitas modern yang membantu pelaksanaan secara efektif, aman, dan higienis, sehingga kualitas daging tetap terjaga sebelum didistribusikan kepada masyarakat penerima manfaat.
Sementara itu, distribusi qurban konvensional SOLOPEDULI menjangkau berbagai wilayah pelosok di Jawa Tengah, di antaranya Kabupaten Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Wonogiri, hingga Magelang. Penyaluran ini difokuskan pada daerah-daerah desa yang masih minim akses terhadap hewan qurban.
dok.humas: Penyaluran Qurban Konvensional di Magelang, Bawah Kaki Gunung Sumbing
Selain penyaluran hewan hidup, SOLOPEDULI sejak Covid-19, menginovasi program qurban dalam bentuk Abon Djoss, yang ditujukan untuk memperluas jangkauan manfaat hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) serta daerah-daerah yang membutuhkan di luar wilayah distribusi konvensional.
Melalui proses pengolahan menjadi abon, manfaat daging qurban dapat dirasakan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Selain memiliki daya simpan yang lebih lama, abon juga lebih praktis untuk didistribusikan, sehingga kualitas dan kandungan gizinya tetap terjaga hingga sampai kepada penerima manfaat. Dengan cara ini, manfaat qurban dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan merata, tidak hanya di wilayah Karesidenan Solo Raya, tetapi juga hingga berbagai daerah di seluruh Jawa Tengah, termasuk wilayah yang sulit dijangkau dan membutuhkan perhatian lebih.
dok.humas: Penyaluran Abon Djoss untuk Lansia Duafa di Pesisir Demak
Penyaluran qurban dalam bentuk abon juga menjadi salah satu strategi SOLOPEDULI untuk mengoptimalkan manfaat qurban, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah minim qurban dan wilayah 3T yang sulit dijangkau oleh distribusi daging segar.
SOLOPEDULI berharap amanah qurban yang telah dititipkan oleh para sohibul qurban dapat memberikan manfaat yang lebih luas, sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap daging qurban. Melalui distribusi yang tepat sasaran, qurban tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga sarana pemerataan manfaat dan kepedulian sosial hingga ke pelosok negeri.(snk)