Memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Kabupaten Sragen mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut turut dirasakan warga di Kecamatan Gesi dan Kecamatan Tangen yang harus berjuang mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Merespons kondisi tersebut, SOLOPEDULI menyalurkan 16.000 liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan di dua wilayah tersebut pada Sabtu (8/8/2026). Penyaluran dilakukan secara langsung oleh tim program SOLOPEDULI bersama Kepala Cabang SOLOPEDULI Sragen, Febrianzah, dengan mendatangkan tangki air bersih ke lokasi permukiman warga.
Penyaluran dilakukan di Kecamatan Gesi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan ke Kecamatan Tangen. Warga terlihat antusias menyambut kedatangan tangki air bersih dengan membawa berbagai wadah, mulai dari galon kosong, ember, jeriken, baskom, hingga panci berukuran besar.
SOLOPEDULI Bantu Warga Gesi Penuhi Kebutuhan Air Sehari-hari
dok.humas: Tim Program Solopeduli Menyalurkan Air Bersih Langsung untuk Warga di Kecamatan Gesi
Di Kecamatan Gesi, penyaluran air bersih disalurkan kepada warga di wilayah Desa Gesi dengan sasaran sekitar 41 kepala keluarga (KK). Bantuan tersebut menjadi sangat berarti bagi warga yang mulai kesulitan mendapatkan air dari sumur akibat kemarau yang berlangsung sejak beberapa waktu terakhir.
Salah satu penerima manfaat, Sri Widodo, warga Dukuh Padas RT 11/RW 05, Srawung, Gesi, Sragen, mengatakan bahwa dampak kemarau mulai dirasakan warga sejak Juli. Selama ini, warga mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, debit air dari sumur semakin sedikit hingga akhirnya tidak lagi mengalir.
“Dampak kemarau sudah terasa sejak bulan Juli. Biasanya kami mengambil air dari sumur, tetapi airnya sedikit. Kalau mengambil air pada pukul 01.00, terkadang sudah kering dan harus menunggu sampai jam yang sama untuk mendapatkan air lagi,” ujar Sri Widodo.
Sri menjelaskan, bantuan air bersih dari SOLOPEDULI akan digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti mencuci, mandi, memasak, serta berwudu.
“Kalau ada bantuan air bersih seperti ini, semuanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, untuk memasak, mencuci, dan wudu. Dampaknya memang sangat terasa bagi kami,” lanjutnya.
Menurut Sri, warga sebenarnya telah memiliki sumur yang cukup dalam. Namun, sumber airnya kecil sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan warga ketika musim kemarau. Kondisi tersebut semakin sulit karena sumber air saat ini sudah tidak lagi mengalir.
“Sumur dalam sebenarnya sudah ada, tetapi sumbernya kecil sehingga sulit mendapatkan air. Sekarang sudah tidak mengalir dan airnya tidak muncul lagi,” katanya.
Kondisi kekeringan tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga sekitar Oktober. Warga pun berharap adanya dukungan air bersih dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka selama sumber air belum kembali normal.
SOLOPEDULI Hadir di Tengah Perjuangan Warga Tangen Mendapatkan Air
dok.humas: Warga Mengantri untuk Mengambil Air Bersih dari Tangki SOLOPEDULI
Setelah menyalurkan bantuan di Gesi, SOLOPEDULI melanjutkan penyaluran air bersih ke Kecamatan Tangen, Sragen. Salah satu lokasi penerima manfaat berada di Dukuh Gondang, Desa Galeh, Kecamatan Tangen, dengan sasaran sekitar 70 kepala keluarga.
Bagi warga Tangen, mendapatkan air bersih selama musim kemarau bukan perkara mudah. Sebagian warga terpaksa mencari sumber air di persawahan sekitar desa karena sumur yang mereka miliki mulai mengering.
Ketika sumber air tersedia, warga harus mengantre sejak pagi hingga malam hari. Bahkan, tidak jarang warga harus mengambil air hingga tengah malam ketika persediaan air di rumah telah habis.
Air dari sumber yang cukup jauh tersebut kemudian dibawa menggunakan berbagai wadah, seperti baskom, panci, jeriken, dan ember. Sebagian warga bahkan harus memikul wadah-wadah tersebut untuk dibawa pulang.
Kehadiran bantuan air bersih dari SOLOPEDULI menjadi angin segar bagi warga. Air yang disalurkan biasanya ditampung terlebih dahulu di tandon agar dapat digunakan bersama-sama oleh warga.
Mbah Tumini, salah satu penerima manfaat, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan air bersih yang diberikan SOLOPEDULI. Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu warga yang kesulitan mendapatkan air selama kemarau.
“Alhamdulillah, para penerima manfaat sangat antusias mendapatkan air bersih. Semoga ini menjadi keberkahan untuk Bapak dan Ibu semua, dan apa yang menjadi hajat Bapak dan Ibu dilancarkan oleh Allah SWT,” ujar Mbah Tumini.
Mbah Tumini menjelaskan bahwa air bantuan tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, terutama mandi, mencuci pakaian, dan berwudu. Sementara itu, untuk kebutuhan memasak dan minum, warga harus membeli air galon.
“Kalau membeli satu galon harganya Rp4.000. Itu saja terkadang hanya bertahan sampai pukul 02.00. Biasanya air bantuan seperti ini kami ambil dan dalam empat hari sudah habis,” jelasnya.
Menurut Mbah Tumini, kondisi kekeringan membuat warga harus berjuang mencari air dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika satu sumber air mengering, warga terpaksa mencari sumber lain yang masih tersedia.
“Kalau sudah tidak ada air sama sekali, kami mencari ke mana-mana, seadanya air atau sumur yang masih ada. Ketika kekeringan seperti ini memang sangat susah dan penuh perjuangan,” tuturnya.
dok.humas: Warga Sragen Mengambil Air Bersih Setelah Adanya Penyaluran dari Tangki SOLOPEDULI
Melalui penyaluran tersebut, SOLOPEDULI berupaya membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak kekeringan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar berupa air bersih. Bantuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi warga hingga kondisi sumber air kembali membaik.
Penyaluran air bersih menjadi bagian dari komitmen SOLOPEDULI untuk terus hadir di tengah masyarakat, terutama bagi warga yang menghadapi kesulitan akibat bencana hidrometeorologi dan kekeringan. Dukungan dari para donatur dan masyarakat menjadi bagian penting agar bantuan air bersih dapat terus menjangkau wilayah-wilayah yang membutuhkan. Mari bersama mendukung Penyaluran Air Bersih untuk Wilayah yang Terdampak Kekeringan Bersama SOLOPEDULI.(snk)