Musim kemarau yang berkepanjangan membuat warga di kawasan lereng Gunung Merapi, Kabupaten Klaten, harus menghadapi keterbatasan akses air bersih. Kondisi tersebut dirasakan masyarakat di Dusun Pucang, Dusun Brajan Kidul, dan Dusun Sumur, Desa Tegalrejo, Kecamatan Kemalang.
Melihat kebutuhan tersebut, SOLOPEDULI melalui tim yang dikomandani oleh Ivan, menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 24.000 liter kepada masyarakat pada Kamis (10/9/2026). Bantuan disalurkan dalam tiga tangki air dengan kapasitas masing-masing 8.000 liter, yang diberikan satu tangki untuk setiap dusun.
Sebanyak 92 kepala keluarga atau sekitar 368 warga menjadi penerima manfaat dalam penyaluran tersebut. Rinciannya, Dusun Pucang sebanyak 30 KK atau 120 warga, Dusun Brajan Kidul sebanyak 28 KK atau 112 warga, dan Dusun Sumur sebanyak 34 KK atau 136 warga.
Wilayah Desa Tegalrejo berada di kawasan lereng Gunung Merapi yang pada musim penghujan masih memiliki sejumlah sumber air. Namun, memasuki musim kemarau, kondisi berubah drastis. Sumur-sumur warga mulai mengering dan debit sejumlah sumber mata air tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sebagian warga kemudian mengandalkan air tadah hujan yang disimpan dalam bak penampungan untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Sementara itu, kebutuhan air untuk memasak dan minum harus dipenuhi dengan membeli air dari penyedia jasa air bersih.
Seorang warga mengungkapkan bahwa air dari embung yang berada di sekitar permukiman lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan mencuci dan ternak karena kualitasnya tidak memungkinkan untuk konsumsi. Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air bersih.
“Air bersih yang diberikan kualitasnya bagus dan bisa untuk konsumsi. Kalau air embung tidak bisa untuk konsumsi, hanya untuk ternak dan mencuci. Kalau untuk mencuci baju, air embung membuat bajunya menjadi cokelat. Kami juga mengandalkan bantuan karena kalau membeli cukup mahal,” ujar warga penerima manfaat air bersih (anonim).
Menurut warga, kebutuhan air rumah tangga juga cukup besar. Dalam kondisi tertentu, satu tampungan air dapat habis dalam waktu sehari, terutama bagi keluarga yang berbagi kebutuhan dengan keluarga lainnya.
Lima Bulan Kekeringan, Warga Harus Membeli Air Bersih
dok.humas: Penyaluran Air Bersih yang dimasukkan ke Dalam Penampungan
Kekeringan telah dirasakan warga selama kurang lebih lima bulan. Ketika persediaan air tadah hujan habis, masyarakat harus mencari air ke wilayah yang lebih tinggi atau membeli dari penyedia air bersih.
Kondisi serupa juga disampaikan Joko, warga Desa Brajan, Dukuh Tegalrejo, Kecamatan Kemalang. Ia mengatakan, pada musim kemarau warga mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih, terutama untuk kebutuhan sehari-hari.
“Di musim kemarau ini banyak kekurangan air bersih. Selama ini kalau untuk ternak dan mencuci baju, kami mengambil air ke Embung Tirtamulya yang jaraknya sekitar 1,5 hingga 2 kilometer dari sini,” tutur Joko.
Joko menjelaskan bahwa hampir setiap keluarga telah memiliki bak penampungan air hujan dengan kapasitas yang beragam, sekitar 5.000 hingga 8.000 liter. Namun, persediaan tersebut tidak mampu bertahan ketika musim kemarau berlangsung panjang.
Di wilayah yang lebih tinggi sebenarnya terdapat sumber mata air. Namun, debitnya belum mencukupi kebutuhan seluruh masyarakat. Bantuan pasokan air dari pemerintah melalui BNPB maupun BPBD juga telah diterima, tetapi distribusinya belum selalu tersedia secara rutin.
“Kalau musim kemarau panjang, air dari sumber yang ada pasti kurang. Bantuan dari BNPB maupun BPBD juga ada, tetapi tidak tentu dan harus bergiliran,” ungkapnya.
Keterbatasan air tersebut turut berdampak pada pengeluaran rumah tangga. Warga harus menyisihkan biaya untuk membeli air bersih, bahkan terkadang patungan dengan beberapa keluarga agar kebutuhan air tetap terpenuhi.
“Satu kecamatan yang terdampak kekeringan sekitar empat desa atau kelurahan. Yang paling dirasakan warga adalah kekurangan air karena air merupakan kebutuhan hidup. Kami berusaha memenuhi kebutuhan itu dengan patungan membeli air bersih, misalnya tiga keluarga bersama-sama. Walaupun sudah memiliki bak penampungan, ketika musim kemarau tetap tidak mencukupi,” jelas Joko.
24 Ribu Liter Air Mengalir untuk Warga Lereng Merapi
dok.humas: Tim SOLOPEDULI Membantu Warga Mengambil Air Bersih dari Tangki
Melalui penyaluran ini, SOLOPEDULI berupaya membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak kekeringan. Sebanyak 24.000 liter air bersih disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di tiga dusun.
Air bantuan dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, terutama memasak dan mandi. Sementara kebutuhan untuk ternak masih dipenuhi dari sumber air lain seperti embung yang berada di sekitar wilayah permukiman.
Di tengah keterbatasan sumber air, masyarakat juga terus berupaya mencari solusi jangka panjang. Salah satunya dengan mencari sumber mata air baru dan melakukan pengeboran agar kebutuhan air masyarakat dapat terpenuhi secara lebih berkelanjutan.
Kehadiran bantuan air bersih dari SOLOPEDULI pun disambut baik oleh masyarakat. Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, bantuan tersebut menjadi bentuk dukungan bagi warga yang selama beberapa bulan harus bertahan menghadapi kekeringan.
“Alhamdulillah, saya mengucapkan terima kasih kepada SOLOPEDULI yang telah memberikan bantuan kepada saudara-saudara kami di lereng Gunung Merapi, khususnya di wilayah timur dan tenggara Gunung Merapi. Kalau musim kemarau, wilayah ini selalu kekurangan air bersih,” ungkap Joko.
Ia berharap bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Semoga apa yang diberikan kepada saudara-saudara kita di sini bisa bermanfaat dan apa yang telah dikorbankan mendapatkan balasan yang setimpal dan tidak disangka-sangka. Matur nuwun,” ucapnya.
Melalui penyaluran air bersih ini, SOLOPEDULI terus berkomitmen menghadirkan kepedulian bagi masyarakat yang menghadapi krisis air bersih. Setiap tetes air yang disalurkan diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi penguat bagi masyarakat untuk terus bertahan dan menghadapi musim kemarau. Mari donasi air bersih untuk warga yang membutuhkan. (snk)