SOLOPEDULI menjadi tuan rumah kunjungan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Waryono, di lokasi pemberdayaan Kelompok Tani Joyo Tentrem, Dusun Kembangsawit, Desa Tempursari, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada Sabtu, (12/09/2026).
Kunjungan tersebut diterima langsung oleh CEO SOLOPEDULI sekaligus Ketua Forum Zakat (FOZ) Jawa Tengah, Sidik Anshori, S.Sos.I., dan diikuti 11 anggota FOZ Solo Raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola, kepatuhan regulasi, serta kualitas pendistribusian dan pendayagunaan zakat.
Dalam kesempatan tersebut, SOLOPEDULI memperkenalkan secara langsung program pemberdayaan yang dikembangkan bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), yakni Program Kemaslahatan Budidaya Ternak Sapi Breeding dan Fattening Kelompok Tani Joyo Tentrem.
Kelompok Tani Joyo Tentrem saat ini telah menjadi pusat pelatihan, edukasi, dan inovasi pertanian serta peternakan di Boyolali. Program pemberdayaan tersebut tidak hanya mengembangkan peternakan sapi, tetapi juga diarahkan menjadi ekosistem integrated farming. Kotoran sapi diolah menjadi pupuk padat, pupuk cair, dan biogas yang kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian dan peternakan lainnya.
Selain sapi, kawasan Joyo Tentrem juga mengembangkan domba, ayam, ikan, melon, anggur, dan alpukat. Konsep tersebut menjadi upaya SOLOPEDULI dalam memastikan bantuan yang diberikan dapat berkembang menjadi sumber manfaat dan usaha produktif bagi masyarakat.
dok.humas: Kunjungan Kemenag RI dan FOZ Solo Raya ke Pemberdayaan SOLOPEDULI
“Pemberdayaan zakat harus memberikan manfaat yang berkelanjutan. Program seperti ini menunjukkan bahwa dana umat dapat dikelola secara produktif sehingga penerima manfaat memiliki peluang untuk berkembang dan mandiri,” ujar Prof. Waryono.
Dalam pengembangan program, BPKH dan SOLOPEDULI memberikan dukungan berupa penambahan hewan ternak, perlindungan Jasindo Syariah, layanan kesehatan hewan dan probiotik, inseminasi buatan, penyediaan pakan hijauan dan konsentrat, timbangan sapi, serta pendampingan kepada kelompok tani.
CEO SOLOPEDULI, Sidik Anshori, S.Sos.I., menjelaskan bahwa konsep pemberdayaan tersebut dirancang agar setiap potensi yang ada dapat menghasilkan manfaat baru.
“Pemberdayaan tidak berhenti pada penyaluran bantuan. Dari sapi ada kotoran yang dapat diolah menjadi pupuk dan biogas, kemudian dimanfaatkan kembali untuk pertanian. Kami ingin satu program dapat melahirkan manfaat bagi program lainnya sehingga tercipta ekosistem ekonomi yang berkelanjutan,” jelas Sidik.
Kunjungan Kemenag RI dan FOZ Solo Raya ini menjadi momentum bagi SOLOPEDULI untuk memperkuat sinergi dalam menghadirkan program zakat produktif yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan mampu mendorong kemandirian mustahik.(snk)